Kenya sebuah negara yang sesungguhnya
sangat indah, dirusak oleh tangan-tangan pemerintahnya sendiri. Uang,
kekuasaan, dan rasa yang tak pernah puas membuat pemerintah Kenya BUTA akan
arti sesungguhnya dari demokrasi.
Hampir seluruh masyarakat Kenyang hidup
di garis kemiskinan. Rakus ! kata yang pas dikatakan untuk para pemimpin di
Kenya, karna diperkirakan 1 miliar dollar hilang di korupsi sejak tahun 2002
sampai 2005 di Kenya.
Pertumpahan darah di negeri Kenya saat pemilihan Presiden pada tahun 2007 mengakibatkan lebih dari 1.100 orang meninggal dan 600.000 orang dipindah secara paksa oleh aparat membuat aktivis muda berusia 29 tahun berpostur tinggi dan berwarna kulit hitam bernama Boniface Mwangi ini tergerak hatinya untuk merubah semua itu agar tidak ada lagi darah masyarakat Kenya menetes. Ia melakukan kritik terhadap pemerintah, berbeda dengan kebanyakan orang Boniface Mwangi melakukan kritik tidak dengan kekerasan, demonstrasi, pengrusakan atau cara cara yang bersifat barbar.
Melalui seni, ia dan rekan-rekan aktifis yang tergabung dalam Picha
Mtaani (Street Exhibition) gempur melakukan kritik terhadap pemerintah dengan
cara mereka sendiri.
“….
They feed our taxes, they rape our mothers, they grab our land so we using art
to tell them, and we are fighting back to reclaim our country..” siratan
kata yang terucap dari mulut seorang aktifis mewakili setiap aksi protes yang
mereka lakukan. Pada film dokumenter
yang di publikasikan oleh saluran TV Al Jazeera, aksi protes yang pertama yang
diluncurkan oleh Picha Mtaani yakni membuat mural dan graffiti di dinding kota
Nairobi. Tulisan dan gambar mewakili perasaan mereka tentang para pimpinan
parlemen yang duduk santai di kantor mereka yang mewah sementara rakyat
menderita, kelaparan, kemiskinan, hak-hak mereka di rebut. Kekesalan itu yang
meluap dan menghasilkan satu karya seni dalam bentuk gambar dan tulisan yang
memiliki banyak arti. Aksi ini sengaja mereka lakukan agar masyarakat Kenya
turut tergerak hatinya dan bersama-sama melawan pemerintahan yang bobrok,
pemerintahan yang penuh dengan korupsi menjadi pemerintahan yang lebih baik.
Karya seni yang penuh dengan arti ini
menarik perhatian masyarakat, tujuan utama diadakannya aksi-aksi seperti ini
memang untuk menarik perhatian masyarakat. Dinding di Nairobi mewakili
pikiran-pikiran rakyat Kenya, Boniface sengaja membuat aksi seperti mural ini
adalah mengajak para pemuda-pemuda Kenya untuk tergerak karena seni urban ini
sangat banyak diminati oleh anak muda. Selain untuk menari perhatian masyarakat
Kenya sendiri, hal ini ia lakukan di depan media, tentunya agar seluruh dunia
tahu persis apa yang sedang terjadi di Kenya dan mengapa ada gerakan gerakan
bawah tanah seperti ini di Kenya.
Masyarakat Kenya sesungguhnya tau betul
apa yang terjadi di negeri mereka, terus menurus mereka mengeluhkan tentang
korupsi, perebutan tanah, hak mereka diambil secara paksa, anak-anak mereka
kelaparan, tidak ada fasilitas yang memadai di kota mereka, kota yang sangat
mereka cintai dikuasai oleh pihak yang memiliki kekuatan, kekuasaan, uang
sedangkan mereka hidup dalam kesusahan dan ketakutan. Tetapi selama ini mereka
hanya terdiam melihat semua kebusukan itu, Picha Mtaani yang di dirikan oleh
Boniface Mwangi ingin sekali masyarakat Kenya membuka mata mereka, mendengarkan
isi hati mereka dan melawan tindakan-tindakan ketidakadilan.
Tidak cukup dengan hanya melukis di
dinding Nairobi, Boniface Mwangi menggunakan foto-foto tindak kekerasan selama
pemilihan presiden di Kenya dan mempertontonkannya di hadapan publik
Kenya
dengan turun ke jalan-jalan. Boniface
sendiri yang memotret foto-foto ini, ia merupakan seorang mantan fotografer jurnalis
di surat kabar The Standart. Aksi ini telah ia lakukan di lebih dari 20 kota di
Kenya sejak tahun 2009.
Seketika mempertontonkan hasil
fotonya di Naivasha yang berjarak 85 kilometer dari ibukota Nairobi. Boniface
mendapat teguran dari salah seorang utusan dari parlemen karna ia
memperlihatkan foto-foto yang memiiki isi konten terlalu sensitif, menurutnya foto
itu dapat mengganggu stabilitas nasional. Boniface memperlihatkan foto presiden
dan perdana mentri yang sedang menangis seolah turut bersedih akan masyarakat
Kenya. Karena insiden ini Boniface dipaksa untuk mencopot dan menyudahi pameran
foto-fotonya di Naivasha.
Memang, setiap aktifis pasti memiliki
pergelutannya masing-masing. Boniface sangat sadar kalau ia selalu diawasi oleh
pemerintah dan bisa kapanpun polisi atau pihak berwenang menangkapnya, tidak
jarang rekan-rekannya merasa ketakutan dikala sedang meluncurkan aksi protes
itu.
Aksi yang paling berperan dalam
memperjuangkan keadilan bagi rakyat Kenya yang dilakukan oleh Picha Mtaani adalah dengan membuat peti mati yang akan dibawa
ke gedung parlemen, peti mati yang berjumlah 49 ini mewakili masalah-masalah
yang terjadi di Kenya khususnya pada level pemerintahan Kenya itu sendiri.
Saat orang pertama kali berfikir tentang
peti mati dan dijadikan sarana kritik pemerintah, kebanyakan akan berfikir kalau
sebaiknya orang-orang dalam gedung parlemen/pemerintahan dibunuh dan dimasukan
kedalam peti. Tujuan para aktifis yang sesungguhnya adalah untuk mengubur
kesalahan-kesalahan yang telah terjadi, memperbaikinya dan membuat Kenya negara
yang lebih damai.
Kenapa semua ini terjadi di Kenya? Menurut
Boniface kekesalan, ketakukan, kepanikan, dan kesedihan yang dialami banyaknya
penduduk Kenya adalah karna pemilihan suara tahun 2007 yang memenangkan Mwai
Kibaki, seorang pemimpin negeri telah memanipulasi pemungutan suara untuk
memenangkan dirinya kembali pada pilpres 2007 di Kenya karena itu aksi yang
dilakukan oleh Boniface Mwangi dan Picha Mtaani dinamai “Ballot Revolution” yang berarti revolusi pemungutan suara.