Selasa, 19 Maret 2013

Gejolak Hidup Anak Kost

Pernakah engkau merasakan, hidup di perantauan
Menuntut ilmu untuk mencapai tujuan
Hidup  jauh dari kedua orang tua
Hidup prihatin, demi masa depan
Nasib…anaaaaak kost….

            Terdengar dari kamar berukuran 2 x 4 meter yang penuh dengan asap rokok dan segunung baju yang belum dicuci sepotong lirik lagu P-Project, kemampuan bertahan hidup sepertinya menjadi sebuah keharusan bagi seorang anak kost dalam menjalani hidup.
            Jauh dari orangtua, tidak ada yang mengawasi, hidup bebas sudah menjadi teman sehari-hari bagi anak kost, sisi yang menarik adalah ketika seorang anak kost yang kelihatannya merasa nyaman menjalani kehidupannya sehari-sehari sebenarnya khawatir akan masa depannya.
            Yoga Kurnia pria dengan postur badan tegap, rambut cepak bak tentara perang dan tubuh yang berotot akibat fitness yang berlebihan. Tidak hanya masa-masa akhir bulan yang mencekam isi perut tetapi rupanya rasa kangen akan rumah sering menghampirinya.
            “Emang sih, dibanding dirumah..disini jauh lebih nikmat, tapi pasti ada kalanya kita kangen rumah” perkataan tersebut terlontar saat ditanyai seputar hidupnya selama menjadi seorang anak kost.
            Kerinduannya akan rumah timbul seketika ia ingin membeli sebuah makanan pada hari Jumat (15/3/13) kala itu hujan deras mengeroyok atap kost dia, kondisi perut tidak bersahabat ditambah dengan guyuran hujan pada sore hari mengingatkannya akan rumah.
            Dirumah pasti setidaknya ada makanan di kulkas atau dapur untuk kita mengganjal perut, tetapi berbeda saat di kost yang kita miliki tidak menentu tergantung dari antisipasi masing-masing orang dalam menghadapi kondisi itu.
            Masakan khas ala ibu kita sering mengingatkan kita akan rumah saat kita jauh dari rumah. Sambil menunggu hujan Yoga menhisap sebatang rokok yang setia menemani hari-harinya semasa kuliah. “dulu gua gak ngerokok, karna ngekost aja buntu jadi ya ikut-ikutan ngerokok.” Merokok juga menjadi alasan kenapa banyak sekali anak kost yang kekurangan uang untuk mengisi perut orang ini.
            Berbeda dengan Margaretha Akesha seorang gadis belia berusia 19 tahun yang kuliah di Tarakanita Bekasi guna mewujudkan cita-citanya menjadi seorang sekretaris yang professional. Gadis yang kerap disapa Margareta ini tinggal di sebuah asrama yang disediakan oleh pihak kampus.
            Semua jadwal mulai dari jadwal makan, waktunya tidur, belajar, beribadah diatur oleh pihak asrama, Margareta mengaku hal ini telah merubahnya menjadi pribadi yang jauh lebih mandiri karena sebelumnya ia adalah anak yang manja yang tidak dapat hidup jauh dari rangkulan hangat kedua orangtua.
            Sebagai seorang wanita, perasaan rindu akan keadaan rumah selalu menyelimuti hari-harinya di asrama, perasaan jenuh sering mengirinya. Sewaktu ketika saat berada di asrama Margareta diserang penyakit pra-tifus, hidup sendiri jauh dari kedua orang tua memang jadi beban yang berat.
            Hanya pengurus asrama dan teman-teman yang dapat diandalkan dan itupun tidak setiap saat mereka bisa mengurusnya ketika sakit. Perasaan rindu anak belaian ibu ketika sakit menyelimutinya kala itu. “pengen banget dibikinin sup ikan batam khas mama, pasti bikin cepet sembuh” keinginan yang hanya bisa dipendam dalam pikirannya itu membuatnya tambah jatuh dan akhirnya memutuskannya untuk meminta agar dijemput dan beristirahat dirumah sampai sembuh.
            Lika-liku dalam menjalani hidup sebagai anak kost memang beragam, tergantung dari bagaiman tipe orang tersebut. Biasanya seseorang akan merasa lebih nyaman apabila ada orang yang setia menemaninya setiap saat yaitu seorang kekasih.
            “Gak punya pacar, gak ada yang nemenin, gak ada yang di kangenin” ucapan dari Linda Puspita Sari. Wanita yang bisa dibilang wanita bisa juga dibilang pria alias tomboy ini berbeda dengan Margareta, kesiapannya untuk menjadi seorang anak kost di bilangan Jakarta Pusat, Salemba.
            Sifatnya yang memang sedikit keras, tidak membuatnya khawatir dengan kondisinya sekarang yang hidup sendiri jauh dari orangtua dan tidak memiliki seseorang yang setia menemaninya (pacar). Menurutnya, menjadi anak kost bukanlah hal yang buruk melainkan hal yang sangat baik, karena itu menjadikan seseorang menemukan jati dirinya.
            Hidup mandiri, tidak cengeng telah menjadi satu dengannya, kost adalah sebuah tempat sementara untuk ditinggali, memang tidak mungkin sebaik tinggal dirumah tetapi itulah yang membuat kita nantinya membentuk sebuah rumah impian sendiri dengan cara berkuliah dengan benar.
            “Kangen rumah? Enggak juga, udah biasa sih dari kecil hidup sendiri” ucap Linda saat ditanyai kerinduannya akan rumah saat menjadi anak kost. Latar belakang kehidupan seseorang dapat membentuk kepribadian seseorang, tetapi terlihat dari raut mukanya yang mesem Linda seolah menutupi bahwa ia sesungguhnya merindukan pelukan hangat seorang ibu, hawa rumah yang menyejukan, sederhana namum terpuaskan.
             “Beginilah jadi anak kost, pasti ngerti lah kan lu juga anak kost kayak lagunya P-Project” ucap Yoga Kurnia sembari mengunyah cemilan yang ada pada genggamanya.

uh….hidup sangat sedih uh uh uh
Nasib anak kost
Nasib anak kost…..



Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang
Ilmu Komunikasi - UMN
11140110064