Wajahnya sudah penuh dengan keriput, termakan oleh waktu, rambutnya sudah mulai memutih hampir keseluruhan. Matanya pun tak lagi bersih bersinar, penyakit telah menggerogoti tubuhnya yang mungil. Maria Catarina Sumarsih, ibu dari Bernardinus Realino Norma Irawan (Wawan), putranya tewas tertembak pada tragedi Semanggi I. Sumarsih berasal dari Semarang kini usianya telah menginjak 60 tahun, usia yang sekarang membuat jasmaninya melemah membuatnya tidak dapat beraktivitas seperti tahun-tahun sebelumnya.
Masih banyak kegiatan yang diikuti oleh Sumarsih. Sudah banyak audiensi yang dia lakukan, antara lain ke Presiden, DPR, Komnas HAM, mendatangi Puspom TNI hingga turun ke jalanan untuk demonstrasi. Sudah banyak sekali orasi yang ia lakukan untuk menyuarakan tegaknya HAM. Berbagai diskusi dan kesaksian tentang pelanggaran, dia ikuti. Bersama Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Sumarsih mendata kondisi korban pelanggaran HAM di Jakarta, Ibu Sumarsih turut mendampingi para keluarga korban yang lain untuk sama-sama memperjuangkan keadilan yang menjadi hak mereka serta memperkuat kepercayaan diri para keluarga korban.
Pada awalnya memang tidak begitu banyak yang mengubris dirinya, setelah sekian lama banyak juga yang turut membantu beliau. Kini perjuangan Ibu Sumarsih telah mendapat banyak dukungan dari banyak pihak. Kenyataan itulah yang semakin terus menguatkan langkahnya untuk membela korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Kiprahnya dalam membela dan menuntut kebenaran telah membuatnya mendapatkan penghargaan Yap Thiam Hien Award Tahun 2004, sebuah penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia.
Reformasi telah berjalan, pemimpin silih berganti mulai dari Habibie, Gusdur, Megawati hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Masih saja ada masalah lalu yang tidak tersentuh apalagi perkara HAM. Semuanya menggelap karena di gelapkan, pandangan dialihkan secara sengaja. Tetapi sampai kapanpun perjuangan mungkin masih tetap ada walaupun hasilnya belum bisa dipastikan.
Kebanyakan orang mungkin sudah menyerah jika usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil yang setimpal, tahun demi tahun ia lewati dengan terus berjuang bersama suaminya Arief Priadi dan para orangtua korban kekerasan untuk memperjuangkan keadilan atas kematian putranya. Sumarsih pernah bekerja di Sekretariat Jendral DPR RI pada masa Orde baru, ironis memang melihat DPR RI tempat ia mengais rezeki untuk membesarkan anak dan menghidupi keluarga tetapi nyawa anaknya hilang karna ulah pemerintah yang tidak becus di masa itu.
Anaknya Wawan adalah mahasiswa Atma Jaya, dan juga seorang aktivis mahasiswa pada masa masa revolusi di tahun 1998. Wawan menghela nafas terakhirnya setelah tertembak oleh peluru tentara di bagian dada kanan. Kala itu Wawan dan segerombol kawanan aktivis sedang mengamankan kerusuhan di Semanggi, Wawan terkena lontaran peluru tajam setelah ia mencoba menyelamatkan temannya yang jatuh di tengah kerusuhan.
Hingga sekarang, tidak ada penuntasan atas kasus penembakan yang menewaskan Wawan, hal itu menjadi dorongan bagi Sumarsih yang terus berjuang untuk menuntut kebenaran di negri yang penuh dengan kebohongan ini, dengan tubuhnya yang mungil dan suaranya yang kecil ia senantiasa mencari keadilan, usahanya bukan semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri namun untuk semua orang yang merasa haknya direbut, harapannya adalah agar hal yang telah ia perjuangkan dapat menulari para pemuda di Indonesia untuk bersama-sama memperjuangkan keadilan dan kebenaran hingga tidak ada lagi pelanggaran HAM di negeri ini.
Anaknya Wawan adalah mahasiswa Atma Jaya, dan juga seorang aktivis mahasiswa pada masa masa revolusi di tahun 1998. Wawan menghela nafas terakhirnya setelah tertembak oleh peluru tentara di bagian dada kanan. Kala itu Wawan dan segerombol kawanan aktivis sedang mengamankan kerusuhan di Semanggi, Wawan terkena lontaran peluru tajam setelah ia mencoba menyelamatkan temannya yang jatuh di tengah kerusuhan.
Hingga sekarang, tidak ada penuntasan atas kasus penembakan yang menewaskan Wawan, hal itu menjadi dorongan bagi Sumarsih yang terus berjuang untuk menuntut kebenaran di negri yang penuh dengan kebohongan ini, dengan tubuhnya yang mungil dan suaranya yang kecil ia senantiasa mencari keadilan, usahanya bukan semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri namun untuk semua orang yang merasa haknya direbut, harapannya adalah agar hal yang telah ia perjuangkan dapat menulari para pemuda di Indonesia untuk bersama-sama memperjuangkan keadilan dan kebenaran hingga tidak ada lagi pelanggaran HAM di negeri ini.
"Peristiwa penembakan Wawan terasa di luar kemampuan saya untuk menghadapinya. Kehidupan lahir dan batin saya sungguh terhempas pada jurang yang begitu kelam. Luluh lantak kehidupan saya dan seakan-akan tak kuasa untuk bangkit dan menata kembali ke kehidupan normal. Di hadapan Tuhan saya bangga terhadap apa yang telah dilakukan Wawan, saya tidak menyalahkan keputusan Wawan untuk bergabung dengan kaum yang peduli dan prihatian melihat carut marutnya negeri ini.” Ucap ibu Sumarsih ketika ditanya kembali tentang kematian anaknya.
Masih banyak kegiatan yang diikuti oleh Sumarsih. Sudah banyak audiensi yang dia lakukan, antara lain ke Presiden, DPR, Komnas HAM, mendatangi Puspom TNI hingga turun ke jalanan untuk demonstrasi. Sudah banyak sekali orasi yang ia lakukan untuk menyuarakan tegaknya HAM. Berbagai diskusi dan kesaksian tentang pelanggaran, dia ikuti. Bersama Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Sumarsih mendata kondisi korban pelanggaran HAM di Jakarta, Ibu Sumarsih turut mendampingi para keluarga korban yang lain untuk sama-sama memperjuangkan keadilan yang menjadi hak mereka serta memperkuat kepercayaan diri para keluarga korban.
Pada awalnya memang tidak begitu banyak yang mengubris dirinya, setelah sekian lama banyak juga yang turut membantu beliau. Kini perjuangan Ibu Sumarsih telah mendapat banyak dukungan dari banyak pihak. Kenyataan itulah yang semakin terus menguatkan langkahnya untuk membela korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Kiprahnya dalam membela dan menuntut kebenaran telah membuatnya mendapatkan penghargaan Yap Thiam Hien Award Tahun 2004, sebuah penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia.
Reformasi telah berjalan, pemimpin silih berganti mulai dari Habibie, Gusdur, Megawati hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Masih saja ada masalah lalu yang tidak tersentuh apalagi perkara HAM. Semuanya menggelap karena di gelapkan, pandangan dialihkan secara sengaja. Tetapi sampai kapanpun perjuangan mungkin masih tetap ada walaupun hasilnya belum bisa dipastikan.
Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang - 11140110064
Tidak ada komentar:
Posting Komentar